Tinggal di Irlandia, apa saja yang perlu disiapkan?

Sudah lebih dari 2 bulan, kami sekeluarga tinggal di Galway, Irlandia. Galway berjarak kurang lebih 209 km dari ibukota Dublin, atau 2.5 jam perjalanan bus. Secara umum, di Irlandia, termasuk Galway, hampir sepanjang tahun turun hujan. Menurut informasi, di sisi timur dan tenggara Irlandia, hujan turun selama 150 hari dalam setahun, sementara di sisi barat, 225 hari.

Kali ini saya ingin berbagi mengenai proses pengurusan visa ke Irlandia. Kabar baik bagi kita warga negara Indonesia, kita tidak diwajibkan membayar biaya pengurusan visa ke Irlandia. Namun ada beberapa hal yang perlu dicermati tentang visa ke Irlandia, mengingat mereka punya sistem yang berbeda dari negara Eropa lainnya.

Umumnya kita akan mendapatkan single entry visa di paspor kita, terlepas apakah kita mengajukan visa jangka pendek (tipe C) atau panjang (tipe D). Dengan single entry visa, kita hanya boleh masuk sekali saja ke Irlandia dan boleh tinggal di sana selama visa berlaku. Jika kita keluar sebelum visa berakhir, kita harus mengajukan entry visa lagi untuk masuk ke Irlandia.

Untuk visa jangka panjang, dalam 90 hari sejak kedatangan, kita harus mengurus Certificate of Registration atau GNIB card sebagai bukti ijin tinggal (stay permit). Berbeda dengan di Italia, stay permit ini tidak berfungsi sebagai visa. Untuk keluar masuk Irlandia, kita harus mengurus re-entry visa. Tetapi tenang, pengurusan re-entry visa tidak mengenakan biaya apapun buat kita warga negara Indonesia. Pengurusan re-entry visa ini butuh waktu 10 hari kerja, sejak aplikasi kita diterima di Dublin.

 

Visa Keluarga ke Italia (Ricongiungamento Familiare)

Sudah hampir tiga tahun saya tinggal di Italia untuk menempuh pendidikan lanjut (postgraduate studies) dengan beasiswa dari kampus sejak 2014. Setahun saya berpisah dari keluarga karena mereka baru datang di tahun 2015 dengan visa keluarga. Visa keluarga ini berbeda dengan visa turis, karena tidak memiliki batas waktu tinggal dan bisa melamar pekerjaan di Italia. Sebenarnya tidaklah rumit mengurus visa keluarga di Italia, tetapi memang it takes time and patience. Jadi buat rekan-rekan sebangsa dan setanah air yang sedang dan mau mengajukan visa keluarga, bersabarlah dan ikuti saja aturannya.

Sudah beberapa kali saya mendapat pertanyaan dari  rekan-rekan mahasiswa bagaimana mengurus visa keluarga. Oleh karena itu saya coba tuliskan kembali pengalaman saya di artikel ini, barangkali bisa membantu para pembaca. Namun demikian, perlu dicatat bahwa informasi yang saya tulis ini adalah pengalaman tahun 2014 yang lalu untuk Family Reunion (liat penjelasan di bawah) dan di propinsi Bolzano (Provincia Autonoma di Bolzano).

Kita dapat memperoleh visa keluarga dengan dua cara: (1) Family Reunion atau (2) Family Cohesion. Untuk kedua jenis visa tersebut, kita memerlukan sebuah sebuah clearance bahwa kita memenuhi syarat untuk mengundang anggota keluarga (istri, anak, orangtua) untuk tinggal bersama-sama dengan kita di Italia – dalam bahasa Italia disebut NULLA OSTA. Perbedaannya adalah pada Family Reunion, NULLA OSTA diurus sebelum keluarga datang, sementara pada Family Cohesion, diurus setelah keluarga datang di Italia.

Pengajuan NULLA OSTA ini harus melalui kantor khusus yang disebut Patronato dalam bahasa Italia. Salah satu Patronato ini adalah ACLI (saya tak tau apa kepanjangannya). Kita bisa mengajukan NULLA OSTA pada hari-hari tertentu saja, karena layanan ini gratis.

Untuk Family Reunion berikut ini adalah dokumen yang harus disediakan (saya lupa dibuat 2 atau 3 rangkap):

  1. Certificate of housing suitability (Idoneità Alloggiativa) yang dikeluarkan oleh Ufficio Tecnico Commune tempat tinggal kita. Sertifikat ini menyatakan bahawa tempat tinggal atau apartemen kita cukup luas untuk menampung seluruh anggota keluarga kita. Pengalaman teman di Bolzano, butuh 1-2 bulan untuk memperoleh dokumen in. Menurut informasi, petugas dari Commune akan datang mengecek luas apartmen. Sebaliknya pengalaman saya, butuh waktu 2 jam untuk memperolehnya. Mungkin karena saya tinggal di commune kecil. Biaya: 16 euro (untuk marca di bolo) dan 5-10 euro untuk administrasi (saya lupa biaya persisnya).
  2. Kontrak tempat tinggal atau apartemen yang didaftarkan ke kantor pajak (Agenzia delle Entrate). Ada aturan tertentu mengenai luas apartemen – beda propinsi mungkin beda aturan. Sebagai contoh di Bolzano, untuk 2 orang dewasa luas minimum adalah 38 sqm dan 1 kamar tidur. Anak kecil yang dibawah umur 14 tahun tidak dihitung sebagai extra person untuk menghitung luas apartemen. Aturan ini mungkin berubah tiap tahun. Silakan dicek lagi di ACLI untuk memastikannya.
  3. Dokumen yang menyatakan bahwa kita memiliki dana atau gaji yang cukup untuk membiayai seluruh anggota keluarga. Saya tak hapal angkanya, silakan ditanyakan ke ACLI lagi, mereka punya angka yang detail. Pengalaman saya, dokumen yang dilampirkan adalah slip beasiswa yang diterima tiap bulan sejak saya datang sampai saat saya mengajukan NULLA OSTA. Saya juga menyertakan surat dari kampus tentang nilai beasiswa yang saya peroleh.
  4. Paspor seluruh anggota keluarga yang diundang.
  5. Marca di Bolo (2 atau 3 – saya lupa persisnya)

Bagaimana dengan surat/buku nikah dan aktar kelahiran anak? Seingat saya untuk NULLA OSTA tidak diperlukan. Tetapi saran saya sebelum datang ke Italia, diterjemahkan dulu ke dalam bahasa Italia. Ini perlu untuk mendaftarkan diri di Commune dan mendapatkan Carta D’identita (semacam KTP yang menyatakan alamat permanen).

Setelah kita mengajukan aplikasi NULLA OSTA melalui Patronato, kita diminta menunggu surat panggilan interview dari Commissariato (Pemerintah Propinsi). Saya mengajukan permohonan NULLA OSTA bulan September 2014 dan menerima surat undangan wawancara 3 minggu kemudian. Wawancara sendiri dilakukan 3 bulan setelah surat diterima. Saat interview, kita menyerahkan seluruh dokumen tersebut. Jika semua dokumen OK, kita diminta menunggu lagi sampai dokumen NULLA OSTA tersebut keluar.

Jika tidak ada masalah, NULLA OSTA yang asli akan dikembalikan ke kita dan satu lagi dikirim ke kedutaan Italia dimana keluarga akan mengurus visa mereka. NULLA OSTA yang asli tersebut harus kita kirim ke keluarga yang akan berangkat, sebagai salah satu syarat pengajuan long-term visa. Pengalaman saya, jika semua persyaratan dipenuhi, visa keluar dalam 3 hari.

Jika istri/suami membawa anak kecil (di bawah 18 tahun), maka butuh surat persetujuan dari istri/suami yang tinggal di Italia. Surat tersebut harus dicap petugas Comune (kota) setempat, dan disertakan sebagai syarat pengajuan visa.

Sesampainya di Italia, kita harus mengajukan aplikasi permesso di soggiorno (ijin tinggal) ke Questura (imigrasi) setempat. Saat ini, biayanya relatif murah, dibanding tahun pertama saya datang. Permesso di soggiorno bisa digunakan sebagai ijin berkunjung ke negara Schengen.

 

 

 

 

 

ho do boru ku..

3 desember 2013

putri sematawayang kami dilahirkan melalui operasi caesar. puji syukur tak terperi kami panjatkan ke hadiratNya. penantian panjang seluruh keluarga besar kami berakhir sudah. tangisnya pecah pada pukul 11.08 siang. para perawat mengukur: beratnya 3150 gr dan panjang 51 cm. geraknya aktif sekali. namanya priscille natalia karina sitorus. doa kami kiranya Tuhan semesta alam yang sudah dan sedang menolong kami orangtuanya hari ini, Tuhan yang sama pula memberkati dan menyertai perjalanan hidupnya. syukur kami menjadi semakin berlimpah ketika orang-orang terdekat kami mendampingi saat-saat kelahirannya.

Image

10 desember 2013

seminggu setelah kelahirannya, priscille harus kembali ke rumah sakit. bilirubinnya masih tinggi, 14 (normal < 11). ini sungguh memukul istri saya, karena keinginnya untuk memberikan asi eksklusif pun tidak terwujud. terlebih melihat priscille menangis di ruang perawatan sementara kami hanya bisa melihatnya dari luar – tanpa bisa melakukan apapun. ketika kami pulang ke rumah, sepi. tak ada gairah dan semangat, semua terenggut di rumah sakit. kami berlutut mohon pernyertaan Tuhan bagi priscille dan bagi kami.

dua hari kemudian, hasil lab terhadap bilirubinnya turun. ini berita yang sungguh melegakan kami semua. priscille pulang ke rumah diantar opungnya. seluruh isi rumah dan halaman bersuka cita. suara dan tangisnya yang sempat hilang kembali muncul. matahari baru kembali bersinar.

terima kasih tuhan (2)

oktober – november 2013

perjalanan yang berliku dan mendaki harus kami hadapi untuk menyiapkan seluruh dokumen yang dibutuhkan. adalah Dichiarazione di valore in loco (DV – Declaration of value) satu-satunya yang menjadi fokus. tantangan menjadi lebih berat karena DV ini haruslah yang dikeluarkan oleh Kedutaan Italia di Stockholm. tak pelak lagi kami harus mencari kontak person yang bisa membantu kami mengurusnya di Swedia. bersyukur, ada seorang teman yang bersedia membantu kami. kami sungguh diajar untuk bersabar dalam segala sesuatunya. satu hal yang kami rasakan adalah jika Tuhan yang membuka pintu, maka tidak ada seorangpun yang dapat menutupnya. dan Tuhan menyatakan rencananya sempurna dalam kehidupan kami. 27 november, kami dapat konfirmasi bahwa persyaratan untuk enrolment sudah terpenuhi.

terima kasih tuhan (1)

18 oktober 2013

kebahagiaan begitu membuncah saat melihat nama saya menjadi salah satu dari enam mahasiswa baru yang menerima beasiswa untuk mengikuti program S3 selama 3 tahun di Bolzano. isi dada seperti mau pecah. perjuangan memperoleh kesempatan S3 yang saya mulai 3 tahun lalu mendapat restu dari Tuhan. saya langsung memberitahu istri dan orang tua saya bahwa saya akan ke italia awal tahun depan. semua ikut terharu bahagia bersama saya..

19 oktober 2013

pagi itu, saya membaca persyaratan untuk proses enrolment. saya bertanya kepada istri saya, apakah kita ambil kesempatan ini? dia memastikan sayang, ini adalah impian kita. saya tertegun. saya sadar segala konsekuensi dari keputusan ini. Tuhan tolonglah kami, itulah doa kami. jika Engkau tak bersertaku, ku tak mau berjalan. Ku perlu Engkau, pimpin langkahku.